Berita

img0035SIARAN PERS

BMKG: Kajian Ilmiah Peneliti Asing Soal Gempa M. 9.5 Dibelokkan

•    Ajak Masyarakat Tidak Panik Tapi Waspada

JAKARTA (27 Agustus 2018) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyayangkan beredarnya berita di beberapa media sosial dan whatshapp yang membelokkan informasi yang disampaikan oleh seorang Peneliti Asing, dari Brigham Young University Profesor Ron Harris terkait potensi gempa besar M=9.5 di wilayah Indonesia sehingga menimbulkan keresahan dan kecemasan masyarakat.

Seperti yang kita dengar, telah beredar pesan berantai pada platform media sosial dan pesan instan whatshapp bahwa akan terjadi gempa Megathrust dengan kekuatan besar di Pulau Jawa, khususnya Jakarta dengan M=8.9. Pesan tersebut menyertakan nama Peneliti Asing dari Brigham Young University dengan memuat link laman www.wartaekonomi.co.id/read150014/peneliti-asing-prediksi-indonesia-bisa-dilanda-gempa-maha-dahsyat-sampai-95-sr.html.

“Setelah kami (BMKG-red) cek, berita yang beredar baru-baru ini merupakan berita lama dan disebar ulang ke masyarakat. Namun, disayangkan ada pihak yang mengemas dan membumbui pesan ilmiah tersebut sehingga diinterpretasikan sebagai ramalan. Perlu kami tegaskan kembali bahwa hingga saat ini belum ada satupun teknologi yang mampu memprediksi gempabumi secara presisi mengenai kapan dan berapa kekuatannya,” ungkap Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhamad Sadly, di Jakarta, Senin (27/8).

Sadly menuturkan penyataan Profesor Harris yang dikutip pada laman www.wartaekonomi pada 05 Agustus 2017 mengkaji terkait palaeo tsunami (Sejarah Tsunami dimasa lalu). Diakuinya, seperti yang dkatakan oleh Profesor Harris bahwa Indonesia pernah terjadi gempa besar yang mengakibatkan tsunami selain di Aceh, kondisi ini terlihat dari endapan purba di pulau Jawa, Bali, Lombok dan Suba di Bagian Selatan. Hal ini dikarenakan Indonesia terletak berada di jalur gempa teraktif di dunia karena dikelilingi oleh Cincin Api Pasifik dan berada di atas tiga tumbukan lempeng benua, yakni, Indo-Australia dari sebelah Selatan, Eurasia dari Utara, dan Pasifik dari Timur. Akan tetapi, lanjut dia, penjelasan kapan dan dimana tempatnya secara pasti masih tanda tanya besar.

Dijelaskan, Indonesia merupakan satu dari sedikit negara di dunia yang sepenuhnya terletak di dalam kawasan “cincin api” sehingga bencana bisa terjadi sewaktu-waktu. Fakta kondisi inilah yang perlu dipahami oleh masyarakat Indonesia sehingga perlu dibutuhkan sikap kesiapsiagaan dan mitigasi.
“’Kesiapan  terhadap bencana alam yang harus terus dibudayakan melalui sosialisasi dan edukasi publik secara menerus, yang disertai dengan praktek-praktek gladi siaga dan evakuasi gempabumi,  juga merupakan kunci pengurangan risiko bencana gempa selain kewajiban untuk memperketat penerapan “Building Code” bangunan tahan gempa di lokasi rentan,” imbuh Sadly. Daripada, lanjutnya, larut dalam diskusi, perhitungan, ramalan, dan perkiraan mengenai kapan lagi gempabumi akan terjadi.

“Gempa bisa terjadi sewaktu-waktu, kapanpun dan dimanapun. Namun kita berupaya jangan sampai ada korban dan dapat meminimalisir resiko dampak gempabumi, dengan cara tidak panik dan paham apa yang harus disiapkan sebelum, saat, dan setelah gempabumi,” terangnya.

Sadly menghimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah percaya informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenaran dan ketepatan informasinya.

“Pastikan informasi terkait gempabumi bersumber dari BMKG. Silahkan akses info BMKG melalui website maupun media sosial ‘infobmkg’ bukan yang lain. Kami terus memantau selama 24 jam,” tambah dia.

Sadly kembali menegaskan terkait informasi hoaks yang muncul dan viral di medsos, sepatutnya para netizen dapat menyaring secara bijak aneka kabar berupa teks, foto dan video yang begitu gampang diakses publik.

“Perlu proses saring sebelum sharing sehingga (informasi hoaks) tidak menjadi viral. Jangan membuat masyarakat resah dengan kabar yang dapat menyesatkan,” tuturnya

Bagian Hubungan Masyarakat
Biro Hukum dan Organisasi BMKG

http://www.bmkg.go.id